Challenging Knowledge and Beliefs on History and Civilization

Beta Pettawaranie | 25-01-2012 10:31 | 0 komentar
book cover picture

Buku ini sebenarnya bertolak dari satu pertanyaan sederhana saja: mengapa sejarah manusia dan peradabannya berkembang berbeda di berbagai tempat yang berbeda pula? Jika dilanjutkan terus, pertanyaan dasar itu akan melahirkan serangkaan pertanyaan ikutannya yang juga senada, misalnya, mengapa produksi pangan di suatu wilayah tertentu berkembang pesat dan terus meningkat, sementara di wilayah yang lain justru sebaliknya?

Dan pertanyaan 'mengapa' itulah yang mendasari dan mewarnai hampir seluruh isi buku. Mencoba dikemas dalam bahasa 'ilmiah populer' agar lebih mudah dicerna oleh pembaca awam, sebagian besar bab dan anak-bab dari buku ini sengaja dijuduli dengan pertanyaan 'mengapa' yang menggelitik, bahkan terkadang cukup lucu. Misalnya: mengapa kebanyakan binatang menyusui berukuran besar tak pernah dijinakkan? Atau, mengapa manusia di beberapa wilayah gagal membudidayakan tanaman? Bahkan, mengapa (bagaimana) Orang Cina menjad Cina? Kenapa Orang Afrika menjadi hitam? Dan seterusnya.

Agak lain dari banyak pendekatan selama ini yang lebih menekankan pada sejarah sosial-politik dan ekonomi, Diamonds justru menggunakan pendekatan multidisiplin yang menggabungkan kajian-kajian sejarah, biologi, ekologi dan bahkan kebahasaan (linguistik). Meskipun demikian, ia tetap tak beranjak dari latar belakang akademiknya sebagai pakar biologi dan kemudian juga kajian lingkungan serta geografi. Bisa dimaklumi jika pokok pikirannya mengarah pada kesimpulan bahwa faktor-faktor geografi dan biogeografi, bukan kesukuan (ras dan etnisitas), yang terutama paling menentukan perbedaan nasib yang dialami oleh berbagai bangsa yang ada di dunia ini di masa lalu, kini, dan mendatang. Karena itu pula, banyak analisisnya benar-benar mengejutkan dan menantang kesimpulan umum (termasuk teori-teori ilmiah) atau keyakinan konvensional (termasuk kepercayaan keagamaan) yang sudah mapan tentang asal-muasal manusia dan sejarah perkembangan peradabannya. MIsalnya, analisis dan kesimpulannya tentang asal-muasal terjadinya perbedaan antara orang (bangsa) yang kaya dengan yang miskin. Menurutnya, pelapisan kelas sosial berdasarkan kepemilikan harta dan sumberdaya justru dimulai dan berakar dari budaya pertanian. Peradaban pertanian lah yang menciptakan pembeda-bedaan tersebut, sehingga masalah-masalah keadilan atau ketidakadilan sosial patut disesalkan sebagai akibat penemuan dan perkembangan sistem (budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi) pertanian.

Tentu saja, pernyataan ini bisa memancing kemarahan para pakar pertanian atau juga para petani sendiri. Bahkan juga mungkin kita semua yang kini hidup dalam kenyataan bahwa faktor utama yang menjamin keberlangsung hidup kita yang paling pokok, yakni pangan, adalah justru hasil dari peradaban pertanian. Diamond memang tidak (atau belum) memberi jawaban tuntas atas persoalan ini, tetapi hampir sepertiga dari isi buku (terutama Bab Dua) berisi uraian-uraian bernalar dan berbasis fakta yang kuat tentang produksi pangan yang mendasari kesimpulannya tersebut.

Tak pelak, buku ini pun memancing cukup banyak kontroversi. Meskipun kurang heboh dan tidak lebih gempar, namun ada banyak persamaannya dengan kontroversi terhadap teori dan kajian sosiobiologi tentang prilaku manusia yang diperkenalkan luas oleh Edward O'Wilson pada pertengahan tahun 1970an (melalui bukunya: Sociobiology: The New Synthesis) . Baik Diamond maupun O'Wilson (atau teori-teori sosio-biogeografi dan sosiobiologi) adalah dua nama yang belum banyak dikenal luas disini, termasuk di lingkungan akademis. Itu sebab mengapa karya-karya mereka menjadi penting dan perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Karena, meskipun mengandung banyak kontroversi, penjelasan-penjelasan mereka yang tidak jamak bisa sangat membantu kita memperluas wawasan baru tentang asal-muasal dan dan sejarah peradaban kita sendiri. Paling tidak, metodologi yang mereka gunakan membuka kemungkinan pengembangan pengetahuan kritis dan alternatif terhadap sistem sosial kita sendiri. Mestinya kita terbuka saja seperti Noam Chomsky yang, meskipun terang-terangan menyatakan tidak sependapat dan mengecam keras teori-teori sosiobiologi, namun ia membela keabsahan metodologi yang mereka gunakan, bahkan dengan rendah hati mengakui bahwa kerangka kerja dasarnya sebenarnya sama dengan metodologi yang selama ini digunakannya dalam kajian-kajian kebahasaan.**