MINGGU KEEMPAT SETELAH GEMPA:
KESETIAKAWANAN RAKYAT BERLANJUT, MENYUMBANG Rp 1,2 MILYAR PER MINGGU
BAGAIMANA PRAKARSA ITU MUNCUL?
Sama seperti minggu sebelumnya, rombongan truk-truk dan kendaraan angkutan lainnya kembali memenuhi jalan-jalan raya antar-kota dan antar-desa di Jogyakarta dan sekitarnya, terutama pada hari-hari Sabtu dan Minggu. Juga sama seperti minggu sebelumnya, semua kendaraan tersebut umumnya mengangkut para relawan lengkap dengan peralatan kerja mereka dan bahan-bahan bangunan. Sasarannya pun masih tetap sama, yakni desa-desa korban gempa-bumi 27 Mei 2006 di daerah Bantul dan Klaten. Ternyata, mereka bukan cuma warga dari daerah sekitar Jogyakarta dan Jawa Tengah. Satu rombongan (4 truk) yang dijumpai hari Minggu pagi, 25 Juni 2006, di perhentian lampu-merah Jalan Raya Lingkar Utara Jogyakarta, ternyata semuanya bernomor polisi daerah Bogor, Jawa Barat. Rombongan 3 mini truk lainnya yang dijumpai di pertigaan Prambanan di Jalan Raya Jogya-Klaten-Solo, bernomor polisi daerah Malang dan Jember, Jawa Timur, ratusan kilometer dari Klaten dan Bantul.Bagaimana aksi kesetiakawan rakyat ini terus berlangsung dan malah kian meluas? Dari hasil wawancara dengan banyak dari relawan tersebut, mereka mengaku umumnya bergerak atas dasar niat dan prakarsa sendiri. Mula-mula ada satu atau beberapa orang di tempat tinggal mereka yang melontarkan gagasannya, lalu disambut oleh yang lain dan dimulailah proses persiapannya. Mereka yang melontarkan gagasan pertama kali memang sudah memiliki kontak dengan desa-desa yang akan didatangi di Bantul atau Klaten (biasanya kenalan, kawan, saudara, atau kerabat). Atau, mereka semua dihubungkan oleh para relawan yang sudah bekerja sebelumnya di desa-desa bencana tersebut. Umumnya secara pribadi mereka menyumbangkan tenaga atau bahan-bahan bangunan, sementara biaya transport dan konsumsi ditanggung bersama atau disumbangkan oleh pemerintah daerah setempat, misalnya, pinjaman kendaraan. Ada juga yang mendapat sumbangan atau diorganisir langsung oleh organisasi massa atau pengurus cabang partai politik tertentu. Mereka tidak terlalu mempersoalkan hal ini, yang penting adalah tersedia bahan dan biaya untuk berangkat kerja sukarela membantu para korban di daerah bencana.
Proses semacam itulah, sebagai contoh, yang terjadi dengan 60 orang warga beberapa desa dari Kecamatan Kalinongko, Kabupaten Klaten, yang pada hari Minggu, 25 Juni 2006, berombongan berangkat dan bekerja membantu warga korban gempa membersihkan puing-puing reruntuhan rumah dan bangunan di Desa Dengkeng, Kecamatan Wedi, juga di Kabupaten Klaten, sekitar 20 kilometer ke arah selatan dari Kalinongko. Mereka difasilitasi oleh para relawan (mahasiswa dan dosen) Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Negeri (STAIN) Surakarta yang sudah bekerja di Dengkeng sejak hari-hari pertama bencana. Para relawan STAIN tersebut kebetulan mengenal banyak warga di Kalinongko karena pernah melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) disana beberapa tahun lalu. Dengan cara yang sama, Pondok Pelayanan STAIN di Dengkeng (salah satu jaringan pondok pelayanan Tim Relawan Kemanusiaan yang difasilitasi dan dikordinir oleh INSIST) itu, pada Selasa 27 Juni 2006, memfasilitasi rombongan warga beberapa desa bekas tempat KKN mereka dulu di Kabupaten Wonogiri, sekitar 60 kilometer arah timur Klaten, datang dengan membawa batangan bambu dan anyaman gedhek. Desa-desa mereka di Wonogiri memang salah satu penghasil bambu.Ternyata, cara-cara yang sama bukan hanya dalam hal perbantuan tenaga relawan dan bahan bangunan untuk pembersihan desa dan pembangunan rumah-rumah sementara. Cara yang sama juga ditempuh banyak relawan dalam hal penyediaan jenis bantuan lainnya. Kordinator Umum SALAM (jaringan pondok pelayanan lainnya yang difasilitasi dan dikordinir oleh INSIST), Sri Wahyaningsih, menjalin kontak-kontak langsung dengan perseorangan dan organisasi yang memberikan sumbangannya kepada para korban di Bantul dan Klaten. Hari Senin, 26 Juni 2006, misalnya, seorang penyumbang di kota Jogyakarta memberitahu melalui telepon seluler bahwa dia secara pribadi bersedia menanggung biaya sekolah dua orang anak lelaki korban gempa usia SMP dari Desa Kragilan, Kecamatan Gantiwarno, Klaten. Dia akan menampung dan menyekolahkan kedua anak itu di kota Jogyakarta. Melalui hubungan-hubungan informal dan tanpa birokrasi semacam itu pula yang menggerakkan banyak perseorangan dan organisasi, tanpa perlu gegap-gempita pemberitaan media massa, menyumbangkan bantuan mereka melalui Pondok Pelayanan SALAM, Salah satunya, misalnya, adalah satu penyumbang dari Jakarta yang mengirim satu kontainer penuh bahan pangan, pakaian, tenda-tenda, obat-obatan, peralatan dapur dan rumah-tangga, serta peralatan kerja tani dan pertukangan.
BERAPA BESAR SUMBANGAN MEREKA? Ini pertanyaan yang tak sederhana menjawabnya. Sifat dari aksi-aksi kesetiakawanan rakyat itu yang serba spontan, informal, dan tidak tercatat, menyulitkan untuk menghitung angka-angka pastinya. Tapi, berdasar pengalaman dan pengamatan lapangan langsung selama dua pekan terakhir, satu perkiraan umum dapat dibuat sebagai berikut:(1) Sebut saja ada 30 prakarsa (satuan kelompok relawan dari satu tempat yang sama) setiap minggu untuk seluruh Bantul dan Klaten. Nampaknya jauh lebih banyak dari angka ini, tetapi ini kita gunakan sebagai angka rata-rata. (2) Katakanlah setiap prakarsa tersebut mengirimkam 3 truk bahan bangunan dan 1 truk penuh relawan (sekali lagi, ini angka rata-rata). Agar mudah, kita bagi saja ketiga truk bahan bangunan itu terdiri dari 1 truk penuh bahan kayu/papan (rata-rata 4 kubik); 1 truk penuh bambu batangan (rata-rata 600 batang); dan 1 truk penuh anyaman gedhek siap-pakai (rata-rata 200 lembar dalam 40 gulungan). Harga rerata saat ini di Jogyakarta dan sekitarnya adalah Rp 800.000 per kubik untuk kayu/papan kelas-2 seperti 'sengon'; Rp 7.000 per batang bambu; dan Rp 50.000 per lembar gedhek kualitas baik (dari kulit-luar bambu, bukan isi batangannya). Maka nilai sumbangan bahan bangunan ini saja adalah: 30 prakarsa x 4 kubik kayu/papan kelas-2 x Rp 800.000 = Rp 96.000.000; 30 prakarsa x 600 batang bambu x Rp 7.000 = Rp 226.000.000; 30 prakarsa x 200 lembar gedhek x Rp 50.000 = Rp 300.000.000. (2) Adapun 1 truk penuh tenaga relawan rata-rata sejumlah 40 orang. Tentu saja, mereka adalah relawan yang tak diupah, namun nilai sumbangan tenaga mereka harus tetap dihitung. Dalam hal ini, kita gunakan saja upah harian rata-rata tenaga tukang/buruh bangunan di Jogyakarta, yakni Rp 25.000 per hari; sementara untuk konsumsi (makan, minum, rokok, dll) adalah Rp 15.000 per hari. Maka nilai sumbangan tenaga kerja serta biaya konsumsi: 30 prakarsa x 40 orang x Rp 25.000 = Rp 30.000.000; 30 prakarsa x 40 orang x Rp 15.000 = Rp 18.000.000. (3) Semua truk tersebut disewa seharian (sejak dinihari berangkat sampai pulang petang/malam hari). Harga di Jogyakarat dan sekitarnya kini adalah rata-rata Rp 300.000 per hari. Sehingga nilai sumbangan dari biaya angkut ini adalah: 30 prakarsa x 4 truk x Rp 300.000 = Rp 36.000.000. (4) Walhasil, total nilai sumbangan antar warga ini adalah: Rp 522.000.000 (seluruh bahan bangunan) + Rp. 84.000.000 (nilai tenaga, biaya konsumsi, dan sewa kendaraan) = Rp 606.000.000 per minggu. Sekali lagi, ini belum termasuk sumbangan yang bukan bahan-bangunan dan tenaga untuk kerja. Anggap sajalah bahwa sumbangan tersebut (dalam bentuk biaya relawan, harga barang-barang dan ongkos angkutnya) nilainya juga sebesar itu, sehingga total nilai sumbangan dari kesetiakawan rakyat untuk para korban gempa di Bantul dan Klaten adalah sekitar Rp 1,2 milyar per minggu. Karena praktis sudah berlangsung selama tiga minggu, maka total nilai sumbangan tersebut adalah sekitar Rp 3,6 milyar. Cara lain menghitungnya secara lebih ringkas adalah dengan menggunakan satuan-biaya (unit cost) bangunan rumah sementara berbahan kayu dan bambu. Kita bisa ambil prototipa bangunan rumah sementara tahan-gempa yang mulai diperkenalkan oleh jaringan pos pelayanan INSIST kepada para korban di Bantul maupun Klaten. Prototipa (bangunan inti seluas 4 x 6 meter) yang rancangan dasarnya dibuat oleh Ir. Eko Prawoto dari Yayasan Pondok Rakyat ini bernilai rata-rata Rp 9 juta. Dari pengamatan lapangan, kami memperkirakan sekitar 600an rumah sejenis dan seukuran tersebut di seluruh daerah bencana di Bantul dan Klaten yang sudah selesai didirikan dan dibangun oleh gerakan kesetiakawanan antar warga sendiri, bukan oleh bantuan atau janji-janji dari luar. Maka total nilai sumbangan sesama rakyat dalam hal bangunan rumah saja sampai saat ini telah mencapai Rp 5,4 milyar! Ini baru dalam hal pembangunan rumah-rumah sementara, belum dalam sumbangan lainnya. Jadi, mengapa masih ada pejabat pemerintah atau beberapa fihak lain yang masih berpikir untuk mengemis pinjaman baru dari berbagai lembaga internasional atau donor luar negeri? |
Ini pertanyaan yang tak sederhana menjawabnya. Sifat dari aksi-aksi kesetiakawanan rakyat itu yang serba spontan, informal, dan tidak tercatat, menyulitkan untuk menghitung angka-angka pastinya. Tapi, berdasar pengalaman dan pengamatan lapangan langsung selama dua pekan terakhir, satu perkiraan umum dapat dibuat sebagai berikut: