Rumah | Tentang INSIST | Struktur & Mekanisme | A n g g o t a | Mitra Kerja | Kontak Kami | Web Mail | Forum
[INSIST::Indonesian Society for Social Transformation]
 

PUSAT-PUSAT BARU PENDIDIKAN RAKYAT


WUJUD FISIK SEKOLAH-SEKOLAH TRANSFORMASI SOSIAL

Salah satu gagasan utama dan program pokok INSIST adalah membangun apa yang kami sebut sebagai 'Sekolah Transformasi Sosial' (STS), yakni pusat-pusat pengorganisasian dan pendidikan rakyat lokal yang dibangun, dikelola, dan dikendalikan langsung oleh masyarakat setempat sendiri. Ini adalah suatu sistem pendidikan alternatif yang memungkinkan rakyat setempat mempelajari dan memahami kenyataan-kenyataan kehidupan dalam segala aspek dan hubungan-hubungan sistemiknya, sehingga mereka memiliki kesadaran kritis dan kemampuan teknis untuk melakukan perubahan sosial, paling tidak, pada aras dan lingkup mereka sendiri. Meskipun demikian, gagasan niskala (abstract) ini juga selalu harus diwujud-nyatakan dalam bentuk fisik, yakni tersedianya prasarana dan sarana 'kampus' dalam artian yang sebenarnya.

Selain YPRI, Mitra Tani, dan LPTP yang baru saja merampungkan pembangunan fisik tahap pertama Kampus PERDIKAN di Pakem, Jogyakarta (lihat rencana tapaknya pada gambar di bawah), beberapa anggota dan mitra INSIST di tempat-tempat lain juga sedang memulai atau baru saja menyelesaikan pembangunan kampus mereka masing-masing.



ENDE: SEKOLAH RAKYAT FLORES

Mitra INSIST di Flores, yakni FIRD (Flores Institute for Resource Development), telah membeli sebidang lahan seluas 2976 m2. Terletak di tepi pantai teluk dan muara sungai yang cantik, tepat menghadap ke Gunung Iya dan Meja di Tanjung Ende, di kaki perbukitan, dan hamparan persawahan di tepi kota Ende (hanya 3 kilometer dari pusat kota), rencana pembangunan kampus ini (lihat tampakan rencana tapaknya pada gambar) akan dimulai dengan pembangunan kantor FIRD dan aula terbuka serbaguna. Kemudian akan menyusul pembangunan wisma pengelola dan pondok-pondok penginapan. Selain untuk keperluan berbagai pelatihan bagi para pengorganisir dan pendidik rakyat setempat, prasarana ini juga nantinya dapat dipersewakan untuk umum sebagai salah satu alternatif sumber pendanaan bagi FIRD dan organisasi-organisasi rakyat lokal yang difasilitasinya.

 

KEPULAUAN WAKATOBI & BUTON: SEKOLAH NELAYAN TOMIA & SEKOLAH RAKYAT BUTON

Organisasi nelayan 'Potau-tau' di Pulau Tomia, salah satu dari empat pulau utama Kepulauan Wakatobi (Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, Binongko) --dahulu lebih dikenal sebagai Kepulauan Tukang Besi, Sulawesi Tenggara, juga sudah menyiapkan lahan milik sendiri seluas 7000 m2 di Desa Waitii, di tepi pantai tepat menghadap ke salah satu gugus terumbu karang tercantik di dunia. Rencana pembangunan tahap pertama (kantor, wisma pengelola, dan aula serbaguna) segera akan dimulai dan direncanakan selesai sebelum akhir tahun 2007 (lihat tampakan jadinya pada gambar). Para anggota organisasi nelayan tersebut telah mengumpulkan dana, termasuk iuran dan sumbangan pribadi mereka masing-masing --selain dukungan dana program dari Program Media Outreach WWF Wakatobi-- untuk memulai pembangunan ini. Selain sebagai pusat informasi dan pendidikan bagi para anggotanya, kampus ini juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat lokal dan dapat dipersewakan untuk umum, termasuk kepada para wisatawan mancanegara yang mulai berdatangan untuk menyelam di terumbu karang Wakatobi.

Sementara itu, Perhimpunan Suluh Indonesia (mitra dan calong anggota INSIST yang berbasis di Kota Kendari dan Bau-bau) juga telah menerima hibah lahan dari masyarakat setempat, seluas 2000 m2 di Desa Lawele, pantai timur-tengah Pulau Buton, untuk membangun kampus SERABUT (Sekolah Rakyat Butuni).



MALUKU TENGAH: SEKOLAH RAKYAT LEASE & SERAM

Jika di Flores, Wakatobi dan Buton baru akan memulai pembangunan fisik kampus mereka, di Maluku Tengah, dua organisasi rakyat lokal, yakni Yayasan Nusa Marina di Pulau Haruku dan Yayasan Pasuri di Pulau Seram (keduanya anggota Jaringan Baileo Maluku yang juga anggota INSIST) malah sudah merampungkan tahap pertama pembangunan kampus mereka masing-masing. Di Haruku, terletak di Tanjung Totu, menghadap ke Pulau Ambon, hanya 2 kilometer dari pusat desa Haruku, kampus Sekolah Rakyat Lease (lihat gambar di bawah: kantor, pondok penginapan, dan aula) juga dilengkapi dengan lahan demplot pertanian organik yang telah berproduksi dan menghasilkan pemasukan dana kepada Yayasan Nusa Marina. Mereka juga memiliki sarana angkutan laut (2 speedboat) untuk penumpang dan barang antar pulau-pulau terdekat.

haruku campus

Rancang-bangun yang sama juga digunakan di kampus Sekolah Rakyat Seram yang dikelola oleh Yayasan Pasuri. Terletak di Desa Waru, di tepian jalan raya Trans-Seram, sekitar 30 kilometer dari Kota Masohi, ibukota kabupaten Maluku Tengah, kampus ini juga memiliki lahan hutan primer dan sekunder seluas 1500 hektar yang dihibahkan oleh pemilik aslinya, yakni masyarakat adat Noaulu, salah satu suku tertua di Maluku. Mereka mulai menanaminya dengan kayu jati, beternak kambing dan sapi, membangun rumah-kaca untuk pembibitan, dan mulai menjual hasil-hasil tanaman sayuran ke pasar Masohi dan Ambon.

Pembangunan kedua kampus ini juga didukung sebagian pembiayaannya oleh Biro Pendidikan Orang Dewasa Jerman (DVV-IZZ).

 

YANG MASIH DALAM RINTISAN dan YANG TELAH SELESAI & BERJALAN LAMA

Sebenarnya masih ada satu lagi yang masih dalam taraf perintisan awal, yakni Sekolah Rakyat Petani yang difasilitasi oleh Yayasan Payo-payo (calon anggota INSIST dalam jaringan komunitas Ininnawa) di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Didukung sebagian pendanaannya oleh ALTERNATIVES dari Canada, mereka mulai menjajaki pembelian lahan kampus di sekitar Taman Nasional Bantimurung, sekitar 60 kilometer dari Kota Makassar.

Selain kampus-kampus baru di atas, beberapa organisasi dan mitra INSIST di tempat lain sudah lama memiliki kampus mereka masing-masing, yakni: (1) Sekolah Mitra Rakyat di bawah Perhimpunan Mitra Aksi di Jambi; (2) Sekolah Rakyat Kawasan Air Hitam di bawah Yayasan Komunitas Sungai (YAKOMSU) di pedalaman perbatasan Kalimantan Selatan dan Tengah; (3) Sekolah Banjar di bawah Yayasan Wisnu Bali di empat desa Bali Tengah dan Timur; dan (4) Sekolah Rakyat Madiwun di bawah Yayasan Nen Masil di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara.

Empat kampus ini memiliki ciri khasnya masing-masing. Misalnya, yang di Jambi, terletak di Desa Piyungan, sekitar 23 kilometer dari pusat kota Jambi, bersebelahan dengan kampus Universitas Jambi dan IAIN Jambi, memusatkan perhatian pada tema-tema penguatan organisasi perempuan pedesaan dan melalui isu-isu pelayanan kesehatan masyarakat. Mereka lah yang memfasllitasi kelahiran dan pengembangan Aliansi Perempuan di 3 kabupaten disana yang beranggotakan sekitar 40.000 orang dengan aset usaha ekonomi yang kini mencapai ratusan juta rupiah, selain mampu mempengaruhi beberapa kebijakan pemerintah daerah kabupaten dan propinsi. Kampusnya sendiri --di atas tanah seluas 7,5 hektar dengan kelengkapan fasilitas kantor, aula, penginapan, studio media, asrama, serta lahan demplot dan produksi-- memasukkan pendapatan kotor (dari persewaan sarana kampus tersebut kepada umum) rata-rata Rp 40-50 juta per bulan. Sementara kampus YAKOMSU di Buntok, sekitar 200 kilometer dari Kota Banjarmasin, memusatkan perhatian pada sistem pengelolaan ekosistem hutan dan aliran sungai berbasis masyarakat. Mereka juga telah mengembangkan sumber pendanaan sendiri dari pengolahan hasil hutan (lebah madu, rotan, dll) oleh anggota koperasinya. Sekolah Banjar di Bali lebih memusatkan perhatian pada pengembangan jaringan ekowisata desa agar tidak tergantung dan didikte oleh industri pariwisata komersial disana. Adapun Sekolah Rakyat Madiwun di Kei memusatkan perhatian pada penguatan otonomi lokal dan hak-hak ulayat masayarakat adat. Mereka telah mengembangkan beberapa desa contoh yang menerapkan otonomi lokal sampai ke tingkat tata-kuasa dan tata-kelola sumberdaya alam dan pemanfaatannya secara berkelanjutan, berkeadilan, dan mandiri. Salah satunya, Desa Debut di pantai barat Kei Kecil, bahkan sempat dijadikan sasaran kajian beberapa lembaga pembangunan internasional seperti UNDP.

INSIST Jalan Kaliurang KM18, Padukuhan Sempu, Dusun Sambirejo, Desa Pakembinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta