Rumah | Tentang INSIST | Struktur & Mekanisme | A n g g o t a | Mitra Kerja | Kontak Kami | Web Mail | Forum
[INSIST::Indonesian Society for Social Transformation]
 

Temu Tani Dukuh Sempu:
KEMBALI KE AKAR


Pertemuan itu sebenarnya bermula secara spontan saja. Pak Lan (selanjutnya, lihat: SOSOK), petani yang mengurus dan menggarap lahan pertanian Kampus PERDIKAN-INSIST, dua minggu sebelumnya, menyampaikan informasi bahwa beberapa orang petani lokal warga Dukuh Sempu –kampung kecil sekeliling kampus PERDIKAN-INSIST di Jalan Raya Kaliurang Km-19, Pakem, Yogyakarta-- berminat belajar lebih banyak tentang pertanian organik yang dipraktikan oleh Pak Lan di lahan PERDIKAN-INSIST. Dewan Pengurus INSIST (Roem Topatimasang dan Saleh Abdullah) segera tanggap, langsung menghubungi dan menanyakan kesediaan Tanto sebagai narasumber. Sarjana lulusan Universitas Gajah Mada yang memilih hidup sebagai petani alam ini, yang telah menjadikannya satu teladan hidup yang sering dijadikan narasumber di banyak daerah di Indonesia, segera pula menyanggupi, dan terlaksana lah pertemuan tersebut.

Maka, sore hari 7 Nopember 2009, 20 orang petani, tua-muda, perempuan dan lelaki, yang mempunyai lahan garapan sekitar Kampus PERDIKAN-INSIST, menghadiri pertemuan. Tanto memulai dengan satu pertanyaan: “Apakah petani itu produsen atau konsumen?” Hampir semua menjawab: “Produsen!” Lalu Tanto mengejar: “Apakah Ibu dan Bapak sekalian masih membeli sayuran dan kebutuhan makan sehari-hari?” Dengan malu-malu, mereka menjawab: “Yaa...!” Dan, dialog orientasi pun bergulir.

Menurut Tanto, yang diakui juga oleh para petani, Pakem dan sekitarnya dulu, selain dikenal sebagai daerah pertanian padi, adalah daerah yang juga dikenal sebagai produsen pacul (cangkul). Sekarang, para petani Pakem, termasuk para petani Dukuh Sempu, malah membeli cangkul buatan pabrik. Pakem dulu juga dikenal sebagai daerah yang banyak sekali belut nya, air melimpah dan sawah-sawah berproduksi sepanjang tahun. Salah seorang petani yang hadir langsung mengakui kenyataan itu dan sambil bercanda ironis berkata: “Sekarang juga masih banyak, Pak. Tapi, larinya cepat sekali, sampai tidak bisa lagi dilihat..” Seorang petani tua memberi kesaksian bahwa pada tahun 1960an, petani-petani di sekitar Pakem masih menggunakan pupuk kandang, sama sekali tidak menggunakan pupuk kimia. Ketika itulah masa jaya pertanian di Pakem.

Perbincangan pun semakin berkembang ke perbandingan penggunaan alat-alat modern pertanian (seperti traktor) dan alat-alat tradisional (seperti bajak) untuk mengolah sawah. Dengan fasih dalam bahasa Jawa ngoko (harian), Tanto menjelaskan tentang perbedaan akibat yang terjadi pada tanah yang dibajak kerbau atau sapi dan tanah yang diaduk oleh traktor. Tanah yang dibajak akan lebih teraduk dari bagian bawah ke bagian permukaan, sementara traktor hanya akan mengaduk sedikit saja di bagian permukaan. Para petani yang hadir mengakuinya berdasarkan pengalaman mereka sendiri selama ini. Dengan kata lain, ini bukanlah pernyataan romantik yang tak berdasar, tetapi terbukti dalam kenyataan. Perbincangan akhirnya berlangsung sampai menjelang magrib dan, seperti biasanya karakter petani yang ingin langsung melihat contoh, para petani itu mengusulkan pertemuan lanjutan dua hari setelahnya.

Pertemuan lanjutan itu, 9 Nopember 2009, berlangsung di Balai Desa Sambirejo, dihadiri oleh Ketua RT dan beberapa pamong desa setempat. Tanto kali ini ditemani oleh Gatot, seorang biarawan yang mempraktikkan langsung pertanian organik di lahan kering di Pulau Flores selama beberapa tahun. Salah satu hasil akhir pertemuan lanjutan itu adalah pernyataan kesediaan salah seorang petani Sempu yang merelakan sebagian dari lahannya (seluas 3000 m2) untuk dijadikan lahan uji coba pertanian organik.

Ya, tempa lah besi ketika masih panas!

INSIST Jalan Kaliurang KM18, Padukuhan Sempu, Dusun Sambirejo, Desa Pakembinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta