PAK LAN: ORGANIK TULEN!
Sejak dibangun dan digunakan dua tahun lalu (2007), Kampus PERDIKAN-INSIST di Pakem memang telah dirancang untuk memanfaatkan seoptimal mungkin lahan sekitarnya sebagai lahan pertanian organik untuk dua tujuan: (1) sebagai contoh (demplot) bagi para petani sekitar; dan (2) sebagai sumber pasokan kebutuhan pangan dan energi alternatif, paling tidak untuk keperluan sendiri. Dengan demikian, kampus ini dan lahan sekitarnya sekaligus menjadi 'alat pengorganisasian' bagi petani setempat.
Mudah dirumuskan, tetapi tak gampang dilaksanakan. Para aktivis dan pengelola Kampus PERDIKAN ini terlalu sibuk dengan banyak kegiatan lain, sehingga gagasan tersebut belum juga terlaksana sampai hampir dua tahun kemudian. Untunglah ada Pak Lan (Kasilan). Mereka yang pernah mampir di Kampus PERDIKAN, tentu tidak asing dengan lelaki separuh baya ini. Orang asal Gunung Kidul yang bersahaja inilah yang kerap membuatkan teh, kopi, atau singkong goreng hasil keringat nya sendiri. Sejak Kampus PERDIKAN digunakan, dia lah yang mengolah lahan-lahan pertanian sekitar milik dua organisasi anggota INSIST, yakni YPRI dan YSIK. Keseluruhan lahan yang tersedia sebenarnya tidak terlalu luas, hanya sekitar 3.000 m2, karena sekitar 1.000 m2 lainnya telah digunakan untuk letak bangunan kantor, aula, paviliun, dapur dan gudang. Namun, pada lahan tak seberapa luas itulah Pak Lan memprakktikkan cara-cara bertani yang 100% organik!
Darimana dia belajar? Petani tekun ini menjawab: “Dari kakek dan bapak saya di kampung!”. Dia selalu bersemangat menceritakan kembali cara-cara dan pengetahuan pertanian tradisional alamiah yang dulu dipraktikan oleh kakek dan bapaknya. Padahal, mereka menggarap lahan kering yang terkenal itu di pedalaman Gunung Kidul. “Kalau di lahan sekering Gunung Kidul saja mereka bisa, mengapa saya tak bisa di lahan yang sangat subur seperti di Pakem ini?”, katanya menerawang. Dia mengaku sangat gembira ketika YPRI dan Sekretariat INSIST memutuskan untuk membeli lahan dan pindah menetap ke Pakem. Dan, dia tidak menyia-nyiakan kesempatan dan kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk mengurus dan mengolah lahan pertanian subur di sekitar kampus dan kantor baru PERDIKAN-INSIST ini. Sejak pindah ke Pakem, dia tak membiarkan nyaris sejengkal tanah pun menganggur sebagai 'lahan tidur'. Satu petak lahan milik YPRI (hanya seluas 600 m2) di belakang paviliun ia tanami padi lokal organik 'cempo putih', Benih asli nya ia bawa langsung dari kampungnya di Gunung Kidul. Ia sama sekali tidak menggunakan input kimia buatan apapun, termasuk pupuk dan racun hama, sepenuhnya hanya pupuk kandang dengan pengaturan air dan teknik tanam tradisional. Banyak petani di sekitar PERDIKAN yang ragu dan mungkin juga tidak percaya kalau Pak Lan bisa berhasil.
Suatu kali, ketika tanaman padinya sudah mulai meninggi, banyak ujung-ujung daunnya yang patah karena dimakan sejenis serangga. Ia sedikit cemas, karena sudah terlanjur yakin bisa menunjukkan pada petani sekitar ia akan berhasil. Kebetulan, ketika itu, Tanto mampir ke PERDIKAN. Tanto lalu memeriksa padi-padi tersebut dan berkata: “Tidak apa-apa, Pak. Tenang saja. Ini tidak fatal.” Terbukti, padi-padi itu tetap berbuah dan bisa dipanen dengan hasil maksimal, sekitar 100 kg gabah kering, jauh lebih baik dari hasil para petani sekitarnya yang rata-rata hanya memanen sekitar 50-60 kg gabah kering dari luas lahan yang sama. Dua musim tanam dan panen sudah Pak Lan bisa membuktikan kepada petani-petani sekitar bahwa cara-cara bertani organik jauh lebih baik. Demikian pula pada musim kemarau, ketika Pak Lan menanam kacang-tanah. Petani sekitar setiap hari harus bekerja keras membersihkan rerumputan liar yang tumbuh subur di sela-sela tanaman kacang mereka, akibat terlalu banyak menggunakan pupuk kimia. Pak Lan tak perlu melakukannya, karena rumput liar tak pernah subur di lahan garapannya yang hanya menggunakan pupuk kandang dan tanpa racun hama.
Bukan hanya padi yang ia tanam. Di sebidang lahan sempit (sekitar 50 m2 saja) di sebelah selatan paviliun, disamping kolam ikan, ia juga menanam aneka sayuran; sawi, selada, terong, kangkung, bayam, cabe, tomat, kemangi, serai, belimbing, tombrang, curcuma (kunyit, laos), jagung, bahkan rosella dan 'koro Jepang'. Semuanya dipanen sepanjang tahun secara bergiliran. Di bagian belakang lahan milik YSIK, disamping kandang kambing dan ayam yang menjadi salah satu sumber pupuk organiknya, dia menanam berbagai jenis pisang, singkong, dan umbi-umbian (termasuk yang sering menjadi hidangan kolak bagi seluruh penghuni dan tamu-tamu PERDIKAN, terutama pada saat berbuka puasa di bulan Ramadhan). Bahkan semua pagar bambu pembatas lahan dan tiang-tiang bangunan di kampus ini penuh dengan tanaman menjalar: mentimun, gambas, kacang panjang, dan buah markisa. Dia bahkan berhasil menyemai dan membiakkan satu jenis bebungaan liar asal daratan Eropa yang daun dan kembangnya dapat dimakan sebagai selada atau lalapan. Semuanya 100% organik! Jajaran pohon turi sepanjang tepi-batas lahan kampus juga dimanfaatkan guguran daunnya sebagai humus penyubur tanah.
Itulah semua yang akhirnya membuat para petani sekitar penasaran: bagaimana lahan sesempit itu sedemikian produktif dan bebas dari biaya tambahan untuk membeli masukan bahan kimia pertanian yang semakin mahal saja harganya? Para petani itu akhirnya sepakat ingin 'menimba ilmu' dari Pak Lan. Dengan rendah hati, Pak Lan menjawab diplomatis bahwa sebaiknya mereka bertanya langsung kepada 'para pakar' yang sering bertandang dan berkumpul di Kampus PERDIKAN. Para petani itu setuju dan terjadilah pertemuan pada tanggal 7 dan 9 Nopember 2009 tadi. “Saya juga selama ini menimba banyak pengetahuan dan informasi dari mereka”, kata Pak Lan, “Kalau mereka mengobrol atau memfasilitasi kegiatan pelatihan tentang apa saja di aula kampus, saya selalu menyempatkan diri untuk mendengar dan menyimak, meskipun hanya duduk atau berdiri di luar ruangan sambil membuatkan teh atau kopi bagi mereka. Sesudah itu, tanpa perlu mereka ketahui, saya mempraktikannya langsung, Mereka baru bertanya-tanya darimana saya tahu dan bagaimana caranya saya melakukan kalau tanaman saya sudah mulai tumbuh atau ketika saya panen”. Jadi, jangan heran jika lelaki yang hanya tamat SD ini cukup fasih omong (tentu saja dalam bahasa nya sendiri) soal 'kemandirian petani', 'kedaulatan pangan', 'pasar bebas', 'kapitalisme', bahkan juga 'neo-lib'!
Pak Lan, petani ulet itu, sama sekali tak bermaksud menyindir, Dia mengatakan pikiran dan perasaannya sejujur mungkin, apa adanya saja. Tetapi, para aktivis yang sering membahas berbagai isu pangan dan energi alternatif di kampus PERDIKAN ini, dengan berbagai data dan argumen 'ilmiah', mestinya bisa pula belajar darinya tentang satu hal yang sering tak mampu mereka kerjakan: lakukan langsung sendiri! Contoh tindakan nyata adalah cara terbaik mengajarkan dan mengajak orang lain, terutama petani pedesaan, Pak Lan membuktikannya kepada para petani Dukuh Sempu. Ia mungkin salah seorang pengorganisir masyarakat terbaik yang pernah dimiliki 'tanpa sengaja' oleh PERDIKAN-INSIST: 100% organik!.