Tahun baru 2008 di negeri ini diawali dengan dua kejadian penting.
Pertama, bencana banjir besar --sejak Desember 2007-- yang melanda lebih dari 95.000 hektar sawah di wilayah Jawa Barat, Tengah, dan Timur, tiga propinsi pemasok utama (65%) sediaan beras nasional. Kedua, untuk pertama kalinya dalam sejarah negeri ini, pada tanggal 14 Januari, ribuan pengrajin tempe dan tahu melakukan aksi unjuk rasa besar-besaran di depan Istana Negara dan Gedung DPR-RI. Mereka juga melakukan 'mogok produksi' selama 3 hari, memprotes harga bahan baku kedelai impor yang semakin mahal dan tidak terkendali.
Kedua peristiwa ini harus dilihat berbeda dibanding peristiwa bencana atau aksi unjuk rasa lainnya. Karena keduanya menyangkut langsung ketahanan pangan nasional. Berbeda dengan masalah-masalah lainnya, ancaman kekurangan pangan selama ini selalu disikapi dengan hanya satu cara oleh pemerintah, yakni 'sikap menyangkal' habis-habisan, mulai dari 'permainan kata-kata' (penghalusan istilah) sampai 'permainan angka-angka' (tafsir statistik). Dan, seperti yang sudah terbukti selama ini, 'penyakit suka menyangkal' semacam itu, jelas sekali, tidak pernah menyelesaikan masalah, bahkan makin memperparahnya dalam jangka-panjang.
⇒